Hari itu, tepatnya pada hari Jumat, tanggal 20 April 2007, tim sepakbola angkatan 2001 berhadapan dengan tim sepakbola PSKM. Pertandingan ini dibilang cukup keras, karena diwarnai oleh kartu kuning dan keributan yang terjadi diluar lapangan. Pertandingan yang memperebutkan tiket ke babak final ini baru selesai pada pukul 18.30 WIB. Keesokan harinya, ternyata tim sepakbola PSKM menghubungi pihak panitia Pormafka dan meminta pertandingan tersebut diulang karena mereka merasa berada dibawah intimidasi. Sebagai akibatnya, panitia kemudian menghubungi contact person tim angkatan 2001, Azhar Sani untuk membicarakan masalah ini tanpa sebelumnya memberitahukan maksud pertemuan tersebut. Menurut Azhar Sani, semula ia mengira pemanggilan tersebut terkait dengan penentuan waktu untuk final. Ternyata saat pertemuan tersebut, pihak panitia mengatakan agar tim sepakbola angkatan 2001 melakukan pertandingan ulang dengan tim PSKM. Tentu saja Azhar Sani langsung menolak mentah-mentah usulan ini.
Tetapi apa yang dilontarkan oleh pihak panitia;
Inilah pernyataannya dan tolong dicatat
TANDING ULANG DENGAN PSKM ATAU ANGKATAN 2001 DIDISKUALIFIKASI
Dimanakah letak masalahnya? Bila kita runut siapa yang salah dan patut disalahkan, maka akan terlihat siapa sebenarnya yang salah..
1. Pertandingan tersebut baru dilaksanakan pada pukul lima sore lebih, molor dari waktu yang ditentukan, pada saat itu, seluruh tim baik PSKM maupun 2001 telah datang tepat waktu, siapa yang salah?
2. Terkait masalah intimidasi, tidak pernah sekalipun 2001 menghubungi atau mengirim pesan ancaman kepada tim PSKM sebelum pertandingan dimulai. Jadi, dari mana pihak panitia dapat mengambil kesimpulan tersebut bila tidak ada bukti, misalnya sms, ataupun no telp ataupun nama orang di angkatan 2001 yang melakukan hal tersebut. Jadi, siapa yang salah?
3. Pertandingan tersebut tetap berlangsung sampai melewati waktu maghrib, saat itu bola sudah tidak terlihat lagi, banyak terjadi kontak fisik antar pemain karena gelapnya lapangan waktu itu. Siapa yang salah?
4. Pihak PSKM mengganggap wasit tidak adil dan memihak angkatan 2001 yang notabene bukan dari angkatan 2001 dan tidak dikenal oleh SEORANG PUN diangkatan 2001 dan dipilih oleh pihak panitia. Jadi siapa yang salah?
5. Pihak PSKM mengganggap penalti kedua tidak seharusnya terjadi, setelah itu salah satu anggota tim PSKM mengeluarkan kata-kata yang menyinggung wasit yang mengakibatkan wasit tidak mau memimpin pertandingan. Siapa yang salah?
(sekedar catatan, keputusan wasit adalah mutlak, marilah bercontoh dengan piala tiger ketika Singapura vs Thailand dengan penaltinya yang kontroversial, tim Thailand yang sempat walk out masuk kembali dan menerimanya dengan lapang dada, bercerminlah kepada mereka yang menjunjung tinggi sportivitas).
6. Tim PSKM menganggap suporter angkatan 2001 mengintimidasi mereka. Saat itu seorang suporter 2001 masuk lapangan dengan marah-marah. Apakah salah jika sebelum seorang tim PSKM tersebut sebelumnya marah-marah sambil menunjuk-nunjuk kearah suporter tersebut dengan alasan tersinggung? (dimana sportivitas mu bung, kita bermain didalam lapangan, bukan diluar lapangan) jadi siapa yang salah?
7. Pada saat hari telah gelap dan telah masuk waktu maghrib, tim 2001 bertanya mengenai kelanjutan pertandingan, apa yang dikatakan oleh tim PSKM? “Lanjutke bae, tinggal limo menit jugo” jadi siapa lagi yang harus disalahkan?
8. Bila panitia dan tim PSKM mengganggap permainan bola tim 2001 kasar, bukankah sudah ada wasit yang memegang kartu, yang sekali lagi tidak dikenal oleh angkatan 2001. Jadi siapa yang salah?
9. Mereka berkata bahwa ada seorang suporter 2001 yang membawa benda tumpul. Hal itu hanya karena emosi semata karena mereka kesal melihat kekeraskepalaan tim PSKM yang tampil ngotot, mau menang sendiri dan kurang senang dengan kepemimpinan wasit. Cukup dimaklumi, tetapi apakah hal yang ditakutkan tersebut benar-benar terjadi? Mereka hanya suporter, bukankah justru seorang tim dari PSKM yang nyata-nyata mengatakan bahwa ia siap dan sudah membawa pedang. (saya mendengar sendiri perkataan tersebut). Jadi siapa yang salah?
10. Setelah itu, panitia dengan PSKM menginginkan pertandingan ulang, dan pihak PSKM siap mencari wasit untuk memimpin pertandingan tersebut? Apakah panitia tidak malu? Itu adalah kewenangan panitia, bila kewajiban panitia diambil alih oleh orang lain, bisa dikatakan pihak panitia tidak sungguh-sungguh. Jadi siapa yang salah?
11. Siapakah yang berhak mengambil keputusan tanding ulang tersebut? Sudahkah dibuat aturan-aturan yang jelas mengenai masalah ini? Apakah SELURUH pihak panitia telah benar-benar mendiskusikan masalah ini? Apakah keputusan tanding ulang ini mau disamakan dengan apa yang terjadi saat tim 2004 vs tim PSKM dahulu?
Dari beberapa poin diatas, kita pasti sudah dapat mengambil kesimpulan sendiri. Saya yakin panitia sudah mampu bersikap dewasa dan menyikapi masalah ini dengan solusi yang terbaik bagi semua. Tetapi tim angkatan 2001 menegaskan bahwa tidak akan ada pertandingan ulang, maka ini adalah hak panitia, bila tim 2001 didiskualifikasi. Tetapi kita para pembaca akan mampu melihat sudah seberapa dewasa pihak panitia tersebut mengambil keputusan dan yang pastinya akan sangat mempengaruhi hubungan di kalangan mahasiswa itu sendiri.
Pihak 2001 yang berhasil kami hubungi berkata seperti ini. “ah.. males kami ngurusinyo, budak tu la besak galo, kalu dengan menang sepakbola biso ngurangi stagnasi kito, payula... “
Sekedar mengingatkan panitia, keputusan apapun yang diambil oleh kalian kedepan pasti ada resiko yang harus dan konsekuensi yang harus dijalani, semua keputusan tersebut akan menentukan apa yang akan terjadi ke depan. Jadi bagi pihak panitia, kami menunggu keputusanmu.